|
DATA DAN INFORMASI TENTANG NUSA TENGGARA TIMUR
A. SEJARAH NUSA TENGGARA TIMUR
- Nusa Tenggara Timur sebelum 20 - 12 -1958
Nama Daerah Nusa Tenggara semula adalah nama pulau-pulau Sunda Kecil ( Kleine Sunda Eilanden) yang meliputi pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor dan pulau-pulau lainnya termasuk Rote, Sawu dan Alor. Pada tahun 1954 dengan UU Darurat No. 9 Tahun 1954 nama Sunda Kecil diganti dengan nama Nusa Tenggara. Nama ini diberikan oleh Menteri P dan K RI Prof. Mr. Moh Yamin (alm). Nama ini untuk pertama kali dicetuskan di Kupang Tahun 1953.
- Nusa Tenggara Timur pada masa Pemerintahan Hindia Belanda 1904 - 1945
Untuk melaksanakan Pemerintahan di Nusa Tenggara Timur Belanda berpegang pada Self Bestuur Regelen tahun 1903, 1919, 1927, dan 1938 yang tercantum dalam Indische Staatsblad 1916 No. 372 menetapkan terbentuknya wilayah pemerintahan "Keresidenan Timor dan teluknya" (Residentie Timor en onder Hoorig heden) dengan pusatnya di Kupang. Residentie Tomor terdiri dari 3 Afdeling (Timur ibukota Kupang, Flores ibukota Ende, Sumba ibukota Bima) dan 15 Order Afdeling
- NTT dan Negara Indonesia Timur
Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, semua wilayah jajahan Hindia Belanda dinyatakan bebas, namun pada saat itu bangsa Hindia Belanda terus berupaya untuk menguasai NTT. Berbagai perjuangan terus dilakukan oleh para pejuang kita untuk mempertahankan NTT dan mereka melibatkan diri melalui organisasi Partai Perserikatan Kebangsaan Timor, yang kemudian merubah namanya menjadi Partai Demokrasi Indonesia di Timor. Para tokoh-tokoh dalam partai PDI Timor terus berjuang ditingkat Nasional di NTT pada awal kemerdekaan sampai berdirinya Pemerintah Negara Indonesia Timor, Pemerintah Otonom NTT.
Pada tahun 1946 terlaksananya Konferensi Malino, dimana para pejuang dari NTT menghadiri Konferensi tersebut dengan membawa tekad yang bulat yaitu "menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri sekarang juga". Para pejuang kita mengikuti kegiatan dimaksud adalah A.H Koroh, I.H Doko dan Th Oematan. Konferensi yang kedua dilaksanakan di Denpasar pada tanggal 20 Desember 1946 yang dihadiri oleh : I.H Doko, pastor Gabriel Manek dan Drs. A.Roti Dengan berpegang pada persetujuan Linggar Jati dan disetujui oleh Presiden RI dan Pemerintah RI, maka utusan-utusan dari Timor ikut membentuk Negara Indonesia Timor sebagai sarana untuk meletakan dasar pemerintahan yang berkedaulatan yang meliputi seluruh Indonesia kelak. Ketiga utusan tersebut juga dilantik menjadi Anggota Parlemen asal NTT yaitu I H Doko, G. Manek, Y.S Amalo dan B. Sahetapy - Angel, Tuga Sutama dari Anggota Parlemen adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebebasan. Pada tahun 1949 atas nama menteri dalam Negeri NIT, I,H. Doko datang ke Kupang dan melantik daerah Timor dan badan pemerintahan yang terdiri Dewan Raja-Raja dan DPR dengan anggotanya sebanyak 30 orang.
- Lahirnya Propinsi Nusa Tenggara Timur
Dalam kekuasaan hukum HIT dengan Undang-Undang No. 44 tahun 1950, ketiga pulau besar yaitu Flores, Sumba, dan Timor dan pulau-pulaunya masing-masing merupakan daerah otonom. Pada Tahun 1950 berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950 maka daerah-daerah Flores, Sumba, Timor, Sumbawa, Lombok dan Bali merupakan satu Propinsi Administratif dengan nama propinsi Sunda kecil. Nama Sunda kecil kemudian diganti dengan nama Nusa Tenggara. Pada tahun 1957 setelah berlakunya UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64 tahun 1958 Propinsi Nusa Tenggara dibagi menjadi tiga daerah Swantantra Tingkat 1, yaiutu masing-masing Swantantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Daerah tingkat 1 Nusa Tenggara Timur meliputi bekas daerah pulau Flores, Sumba dan Timor dan Kepulauannya. Hasil terakhir diketahui bahwa Nusa Tenggara Timur hingga saat ini memiliki 566 buah pulau yang tersebar diantara 3 (tiga) buah pulau besar yaitu Flores, Sumba dan Timor yang biasa disapa "Flobamor" Demikian sejarahnya singkat terbentuknya Propinsi Nusa TenggaraTimur.
B. ARTI LAMBANG NUSA TENGGARA TIMUR
Lambang Propinsi Nusa Tenggara Timur dapat mempunyai arti sebagai berikut
- Bintang dilambangkan sebagai ke Tuhanan yang Maha Esa.
- Komodo dilambangkan sebagai kekayaan Alam khas Nusa Tenggara Timur.
- Padi dan kapas dilambangkan sebagai kemakmuran yang dimiliki oleh Propinsi Nusa Tenggara Timur
- Tombak dilambangkan sebagai Keagungan dan Kejayaan.
- Pohon beringin dilambangkan sebagai Persatuan dan Kesatuan.
C. BAHASA
Jumlah pulau yang ada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 566 buah dan tersebar, namun bahasa yang dimiliki cukup banyak dan tersebar pada pulau-pulau yang ada, yaitu : Bahasa Kupang, Melayu Kupang, Dewan Amarasi, Helong, Sabu, Rote, Tetun, Bural (untuk pulau Timor, Rote, dan Sabu serta pulau-pulau kecil disekitarnya). Untuk pulau Alor dan pulau-pulau disekitarnya cukup banyak bahasa yang dimilikinya, yaitu : Bahasa Tewo Kedebang, Blagar, Lamuna, Abui, Adeng, Katola, Taangla, Pui, Kalona, Kui, Pura Kang, Samila, Kule, Aluru, Kayu, dan Kaileso. Sedangkan untuk pulau Flores terdiri Bahasa Melayu, Larantuka, Lamaholot, Kedang, Krawe, Palue, Sikka, Lio, Lio Ende, Naga Keo, Ngadha, Ramba, Ruteng, Manggarai, Bajo, dan Komodo. Pulau Sumba terdiri dari Bahasa Kambera, Wewewa, Anakalang, Lamboya, Mamboro, Wonakaka, Loli, dan Bahasa Kodi.
D. SOSIAL BUDAYA
Hubungan kemasyarakatan di Propinsi Nusa Tenggara Timur masih sangat kental (kekerabatan dan nilai-nilai kehidupan) sehingga kegotong-royongan merupakan landasan pijak dalam mengembangkan pola kehidupan setiap hari. Disisi lain perlu disampaikan bahwa secara geografis dan topografis, maka NTT terbentang diantara 566 buah pulau dengan jumlah penduduk sebanyak 4.165.568 jiwa dengan kepadatan 78/Km yang terdiri dari laki-laki 2.074.492 dan perempuan 2.091.076. Iklim di Nusa Tenggara Timur ditandai dengan 8 Bulan kemarau dan 4 bulan hujan. Mata Pencarian dari pada masyarakat adalah Pertanian, disamping itu perternakan sebagai kerja sampingan yang dilaksanakan. Penduduk asli NTT terdiri dari berbagai suku yang mendiami daerah-daerah yang tersebar di seluruh wilayah NTT. Adapun suku-suku dan lokasinya di NTT sebagai berikut:
- Suku Bangsa Helong
Mendiami sebagian wilayah Kabupaten Kupang / Kupang Tangah dan Barat / Serta pulau Semau.
- Suku Bangsa Dawan
Mendiami sebagian wilayah Kabupaten Kupang / Amarasi, Amfoang, Kupang Timur dan Tengah / Kabupaten Timor, Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan sebagian Kabupaten Belu / bagian perbatasan dengan Kabupaten TTU.
- Suku Bangsa Tetun
Mendiami sebagian besar Kabupaten Belu dan wilayah Negara Timor Leste.
- Suku Bangsa Kemak
Mendiami sebagian kecil Kabupaten Belu dan wilayah Negara Timor Leste.
- Suku Bangsa Marae.
Mendiami sebagian kecil Kabupaten Belu bagian Utara dekat perbatasan dengan Negara Timor Leste.
- Suku Bangsa Rote.
Mendiami sebagian besar Pulau Rote dan di sepangjang pantai utara Kabupaten Kupang dan Pulau Semau
- Suku Bangsa Sabu /Rae Havu
Mendiami Pulau Sabu dan Raijua serta beberapa pulau Sumba.
- Suku Bangsa Sumba.
Mendiami Pulau Sumba yang terdiri dari dua kabupaten.
- Suku Bangsa Manggarai Riung.
Mendiami Pulau Flores bagian Barat, terutama Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat
- Suku Bangsa Ngada.
Mendiami sebagian besar daerah Kabupaten Ngada.
- Suku Bangsa Ende Lio.
Mendiami daerah kabupaten Ende.
- Suku Bangsa Sikka - Krowe Muhang.
Mendiami daerah kabupaten Sikka.
- Suku Bangsa Lamaholot.
Mendiami daerah Kabupaten Flores Timur meliputi pulau Adonara, Solor dan sebagian Pulau Sembara.
- Suku Bangsa Kedang.
Mendiami ujung timur Pulau Lembata.
- Suku Bangsa Labala.
Mendiami ujung selatan Pulau Lembata.
- Suku Bangsa Alor Pantar.
Mendiami Pulau Alor dan Pantar.
Selain suku-suku diatas, Nusa Tenggara Timur juga dihuni oleh suku-suku pendatang yaitu orang-orang keturunan Cina, Arab, Bugis, Makasar, Buton, Bajo dan Jawa serta beberapa suku lainnya. Kebudayaan yang mempengaruhi kebudayaan Nusa Tenggara Timur berasal dari beberapa suku maupun bangsa, diantaranya yang pernah mempengaruhi kebudayaan NTT adalah Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Ambon/Maluku, Portugis dan Belanda.
E. AGAMA
Propinsi Nusa Tenggara Timur didominir oleh Agama Kristen (Katholik dan Protestan) dan sebagian Agama Islam. Perkembangan Agama Katholik di sebarkan oleh Bangsa Portugis dan Agama Kristen Protestan di sebarkan oleh Bangsa Belanda. Penyebaran Agama Islam masuk ke Nusa Tenggara Timur melalui pedagang dari Ternate menyebarkan Agama Islam melalui kabupaten Alor. Untuk wilayah Sumba melalui Nusa Tenggara Barat dan dari Pulau Flores melalui Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan untuk Agama Hindu dan Budha penyebarannya melalui pendatang yang melaksanakan tugas di Nusa Tenggara Timur.
DAFTAR PUSTAKA
1. Potensi dan Peluang Investasi NTT Menuju Era Pasar Bebas, Tim Penyusun: PEMDA NTT.
|